News
Loading latest update...
🚀 Lagi cari platform crypto yang lengkap? OKX bisa jadi salah satu pilihan untuk mulai mengenal trading dan aset digital. Kenali OKX

Perang Robot Humanoid Makin Panas: $8,6 Miliar Mengalir ke Physical AI

Perang robot humanoid memanas. AS, China, dan Eropa berlomba mengembangkan Physical AI dengan miliaran dolar pendanaan pada 2026

Radar Investor - Perlombaan robot humanoid memasuki babak baru. Jika beberapa tahun lalu robot berjalan, menari, atau melakukan pekerjaan sederhana masih terlihat seperti demonstrasi teknologi, pada 2026 industri ini mulai berubah menjadi arena investasi global.

Perang robot humanoid global dan perkembangan Physical AI pada 2026
AS, China, dan Eropa berlomba membangun generasi baru robot humanoid berbasis Physical AI.

Startup humanoid robotics telah mengumpulkan sekitar $8,6 miliar sepanjang 2026 hingga pertengahan tahun, sekitar 1,8 kali lipat dari total pendanaan sektor tersebut sepanjang 2025, menurut data Dealroom yang dikutip Tech Funding News.

Dan uang tersebut tidak hanya mengalir ke satu perusahaan.

Amerika Serikat, China, Eropa, Jepang, dan Korea Selatan kini berlomba membangun apa yang semakin sering disebut sebagai Physical AI—kecerdasan buatan yang tidak hanya menghasilkan teks atau gambar di layar, tetapi mampu melihat, memahami, bergerak, mengambil keputusan, dan bekerja di dunia nyata.

Namun ada satu pertanyaan besar: Apakah kita sedang menyaksikan lahirnya industri raksasa baru, atau justru gelembung valuasi robotika berikutnya?

Unitree Menjadi Simbol Perlombaan Robot Humanoid

Salah satu nama yang paling mencuri perhatian adalah Unitree Robotics dari China. Perusahaan ini baru menetapkan harga IPO Shanghai pada 150,8 yuan per saham, yang memberikan valuasi awal sekitar $9,04 miliar. IPO tersebut mengumpulkan sekitar $904 juta dan menjadikan Unitree perusahaan humanoid pertama yang tercatat di bursa utama China.

Namun cerita Unitree tidak berhenti pada valuasi IPO. Ketika mulai diperdagangkan pada 19 Agustus, sahamnya melonjak hingga lebih dari 600% pada perdagangan awal dan ditutup sekitar 460% di atas harga IPO. Market cap perusahaan kemudian melonjak ke puluhan miliar dolar.

Ini menunjukkan betapa besar selera investor terhadap tema robot humanoid. Tetapi sekaligus menjadi peringatan. Harga saham yang melonjak ratusan persen dalam satu hari tidak sama dengan peningkatan nilai fundamental perusahaan sebesar ratusan persen, Itulah sebabnya valuasi Unitree harus dibaca dengan hati-hati.

Amerika Serikat: Modal Besar, Ambisi Besar

Amerika Serikat tetap menjadi salah satu pusat utama pengembangan humanoid dan Physical AI. Figure AI menjadi salah satu perusahaan paling bernilai di sektor ini dengan valuasi sekitar $39 miliar. Di belakangnya terdapat sejumlah pemain dengan ambisi berbeda, mulai dari Skild AI, Physical Intelligence, Apptronik, hingga perusahaan robotika seperti Agility Robotics dan Boston Dynamics. Tesla juga masih menjadi nama yang tidak bisa diabaikan melalui proyek Optimus.

Yang menarik, perlombaan Amerika tidak hanya dilakukan oleh startup. Perusahaan seperti Tesla memiliki kemampuan manufaktur, rantai pasok, AI, dan modal yang jauh lebih besar dibandingkan sebagian besar startup robotika. Jika Tesla berhasil menggabungkan kemampuan tersebut dengan Optimus dalam produksi massal, persaingan dapat berubah secara drastis.

Project Prometheus: Physical AI Lebih Besar dari Robot Humanoid

Ada satu nama yang perlu dipisahkan dari daftar robot humanoid biasa: Project Prometheus milik Jeff Bezos. Prometheus bukan sekadar perusahaan pembuat robot humanoid. Perusahaan tersebut mengembangkan AI untuk dunia fisik, terutama engineering dan manufaktur. Prometheus diluncurkan dengan sekitar $6,2 miliar pendanaan, dan Bezos bersama Vik Bajaj membangun perusahaan tersebut dengan fokus pada penerapan AI di sektor industri.

Ini penting karena masa depan Physical AI mungkin tidak hanya ditentukan oleh bentuk robot. Yang lebih penting adalah otak di balik robot tersebut. Robot bisa memiliki tangan, kaki, kamera, sensor, dan aktuator terbaik. Tetapi tanpa AI yang mampu memahami lingkungan dan melakukan tugas secara konsisten, robot tersebut tetap menjadi mesin mahal.

China Bergerak Sangat Cepat

Jika Amerika memiliki modal dan perusahaan teknologi besar, China memiliki keunggulan lain:

rantai pasok manufaktur.

China kini menjadi kekuatan dominan dalam pengiriman robot humanoid. Reuters melaporkan bahwa perusahaan China menyumbang sekitar 97% pengiriman humanoid global pada paruh pertama 2026. Namun sebagian besar robot masih digunakan untuk penelitian dan demonstrasi, bukan operasi komersial berskala besar.

Selain Unitree, terdapat nama seperti UBTech, AgiBot, Galbot, LimX Dynamics, Pudu, EngineAI, Astribot, dan berbagai perusahaan lainnya. Bahkan di China sendiri, persaingan mulai sangat padat. Financial Times melaporkan hampir 370 startup humanoid telah muncul hanya dalam dua tahun, sementara lebih dari 50 perusahaan sedang mempersiapkan kemungkinan listing.

Angka tersebut menunjukkan dua hal sekaligus. Pertama, China serius membangun industri robotika, Kedua, risiko kelebihan kapasitas dan perang harga juga semakin besar.

Eropa Tidak Mau Ketinggalan

Eropa mungkin tidak memiliki jumlah startup sebanyak China, tetapi mulai menghasilkan perusahaan dengan pendanaan besar. Salah satu contoh paling mencolok adalah NEURA Robotics dari Jerman.

Pada Juni 2026, NEURA mengumumkan Series C hingga $1,4 miliar, dengan dukungan investor seperti Tether, Qualcomm, Amazon, NVIDIA, Bosch, Schaeffler, dan European Investment Bank. Pendanaan tersebut memberikan valuasi sekitar $7 miliar.

NEURA juga tidak sekadar membangun satu robot. Perusahaan ingin membangun ekosistem Physical AI yang menggabungkan robot, sensor, edge computing, dan pembelajaran berkelanjutan. Di Inggris, Humanoid juga telah mencapai valuasi sekitar $1,35 miliar setelah mengumpulkan $152 juta dalam Series A.

Sementara itu, 1X dari Norwegia menjadi salah satu perusahaan Eropa lain yang menarik perhatian investor global.

Korea dan Jepang Ikut Memasuki Arena

Perlombaan ini juga meluas ke Asia Timur. Korea Selatan memiliki ekosistem manufaktur dan robotika industri yang kuat. Rainbow Robotics, misalnya, mendapat dukungan strategis dari Samsung. Jepang memiliki pengalaman puluhan tahun dalam robotika melalui perusahaan seperti Kawasaki dan berbagai pemain industri lainnya. Masalahnya, robot industri tradisional dan robot humanoid bukanlah hal yang sama.

Robot industri biasanya bekerja di lingkungan yang terstruktur sedangkan Humanoid harus bekerja di dunia yang jauh lebih berantakan. Ia harus menghadapi manusia, benda yang berubah posisi, pencahayaan berbeda, permukaan tidak rata, dan tugas yang belum tentu sama setiap hari. Di sinilah Physical AI menjadi jauh lebih sulit.

Uang Sudah Masuk. Tetapi Apakah Bisnisnya Sudah Terbukti?

Ini bagian yang paling penting bagi investor. Pendanaan miliaran dolar bukan bukti bahwa industri tersebut sudah menghasilkan keuntungan miliaran dolar. Sebagian besar robot humanoid saat ini masih menghadapi masalah:

  • biaya produksi;

  • daya baterai;

  • keandalan;

  • kemampuan manipulasi objek;

  • keselamatan saat bekerja dengan manusia;

  • biaya pemeliharaan;

  • dan kemampuan AI menjalankan tugas secara konsisten.

Reuters mencatat bahwa meskipun pengiriman robot humanoid China sangat dominan, sekitar 65% robot masih digunakan untuk tujuan nonkomersial dan ini merupakan fakta yang harus diperhatikan. Demo yang terlihat luar biasa di panggung belum tentu berarti robot tersebut siap bekerja delapan jam sehari di pabrik.

Ancaman Gelembung Mulai Terlihat

Lonjakan valuasi Unitree merupakan contoh paling ekstrem. Perusahaan menetapkan valuasi IPO sekitar $9 miliar, tetapi harga sahamnya kemudian melonjak beberapa kali lipat pada hari pertama perdagangan. Di sisi lain, perusahaan seperti NEURA memperoleh pendanaan besar pada valuasi miliaran dolar sebelum industri humanoid benar-benar mencapai adopsi massal.

Ini bukan berarti valuasi tersebut pasti salah, Investor memang sedang membeli potensi masa depan. Tetapi semakin tinggi valuasi, semakin besar pula ekspektasi yang harus dipenuhi. Jika robot humanoid gagal mencapai biaya ekonomi yang masuk akal, valuasi tersebut dapat mengalami tekanan besar.

Yang Diperebutkan Bukan Sekadar Robot

Pada akhirnya, perlombaan Physical AI bukan hanya tentang siapa yang membuat robot paling mirip manusia. Ada setidaknya lima lapisan yang akan menentukan pemenang:

Pertama, AI.

Siapa yang memiliki model paling mampu memahami dunia fisik?

Kedua, hardware.

Siapa yang mampu membuat aktuator, sensor, tangan, baterai, dan komponen lain dengan biaya rendah?

Ketiga, data.

Robot yang bekerja di dunia nyata akan menghasilkan data yang sangat berharga untuk meningkatkan model AI.

Keempat, manufaktur.

Robot yang hebat tetapi terlalu mahal tidak akan memenangkan pasar massal.

Kelima, distribusi.

Perusahaan harus mendapatkan akses ke pabrik, gudang, rumah sakit, toko, dan akhirnya rumah konsumen. Dengan demikian, pemenang industri ini mungkin bukan perusahaan yang robotnya paling viral. Pemenangnya bisa jadi perusahaan yang mampu menggabungkan AI, hardware, data, manufaktur, dan distribusi sekaligus.

Amerika vs China: Dua Model yang Berbeda

Persaingan Amerika dan China juga menarik untuk diperhatikan. Amerika memiliki perusahaan AI dengan modal besar, akses ke chip canggih, dan perusahaan teknologi seperti Tesla, NVIDIA, Amazon, serta berbagai startup Physical AI. China memiliki basis manufaktur yang sangat besar, rantai pasok robotika yang berkembang cepat, dan dukungan kebijakan industri.

Data pengiriman saat ini menunjukkan China berada jauh di depan dalam volume humanoid, tetapi volume pengiriman belum otomatis berarti keunggulan dalam profitabilitas atau AI. Justru tahap berikutnya akan lebih sulit mengubah ribuan robot demonstrasi menjadi jutaan robot yang benar-benar menghasilkan uang.

Era Robot Sudah Dimulai, tetapi Perlombaan Baru Memasuki Babak Awal

Ledakan pendanaan hingga sekitar $8,6 miliar pada 2026 menunjukkan bahwa investor mulai melihat Physical AI sebagai salah satu frontier teknologi terbesar setelah AI generatif. Unitree, Tesla Optimus, Figure AI, NEURA Robotics, Apptronik, AgiBot, 1X, Boston Dynamics, dan puluhan pemain lainnya sedang mengejar visi yang sama dari arah berbeda.

Namun, investor harus membedakan antara kemajuan teknologi, pendanaan, valuasi, dan bisnis yang benar-benar menguntungkan. Robot bisa berlari, Robot bisa menari, Robot bahkan bisa melakukan tugas yang beberapa tahun lalu terlihat mustahil. Tetapi ujian sebenarnya bukan di panggung demonstrasi.

Ujian sebenarnya adalah ketika robot harus bekerja setiap hari, dengan biaya yang lebih murah daripada tenaga manusia atau memberikan produktivitas yang jauh lebih tinggi.

Jika itu berhasil, Physical AI bisa menjadi salah satu revolusi industri terbesar dalam beberapa dekade.  Jika tidak, sebagian valuasi miliaran dolar yang terlihat hari ini bisa berubah menjadi contoh klasik ketika pasar membayar terlalu mahal untuk masa depan yang datang lebih lambat dari perkiraan.

Perang robot humanoid baru dimulai. Dan kali ini, yang diperebutkan bukan hanya siapa yang memiliki robot terbaik tetapi siapa yang mampu membuat robot tersebut benar-benar menghasilkan uang.

Link Diskusi 

Cookie Consent
Situs ini menggunakan cookie untuk menganalisis lalu lintas web, mengingat preferensi Anda, dan mengoptimalkan pengalaman Anda
Oops!
Koneksi internet Kamu sepertinya bermasalah. Cek koneksi internet dan coba lagi
AdBlock Detected!

Kami mendeteksi Anda menggunakan pemblokir iklan (AdBlock).
Pendapatan dari iklan digunakan untuk mengelola situs web ini, mohon matikan pemblokir iklan atau masukkan situs kami ke dalam daftar putih (whitelist)