News
Loading latest update...

BTC Turun Setelah Tembus US$87.000, Apa yang Sebenarnya Terjadi?

Bitcoin sempat menembus US$87.000 sebelum terkoreksi ke area US$84.000 pada 24 September 2026. Simak pengaruh yield Treasury, minyak, ETF

Radar Investor —Bitcoin kembali memberikan pelajaran penting pada pasar. Setelah sempat menembus sekitar US$87.300, Bitcoin justru berbalik turun dan kembali berada di area US$84.000 pada 24 September 2026. Pergerakan ini menarik karena terjadi ketika sentimen terhadap Bitcoin sebelumnya sedang membaik.

Bitcoin turun dari sekitar US$87.000 ke area US$84.000 di tengah kenaikan Treasury yield dan perubahan sentimen pasar pada 24 September 2026.
BTC TEMBUS $87K, LALU TURUN APA YANG TERJADI?
Arus dana ke ETF Bitcoin Amerika Serikat juga sempat kuat. Data yang dikutip Dow Jones menunjukkan ETF spot Bitcoin mencatat arus masuk bersih lebih dari US$2,3 miliar selama empat hari berturut-turut, dengan sekitar US$1,7 miliar masuk dalam dua hari terakhir periode tersebut. Lalu mengapa harga justru terkoreksi? Jawabannya ternyata tidak sesederhana Trump–Xi.

Bitcoin naik, lalu pasar mengerem

Bitcoin mencapai sekitar US$87.315 pada awal pekan, level tertinggi sejak Januari. Namun setelah itu momentum mulai kehilangan tenaga. Pada perdagangan 24 September, Bitcoin sempat turun hingga sekitar US$83.551 dan berada di kisaran US$84.000 setelah sebelumnya kembali menguji US$87.000.

Ini menunjukkan satu hal Harga yang naik tidak selalu berarti tekanan jual sudah selesai. Ketika aset sudah mengalami kenaikan cukup cepat, sebagian pelaku pasar dapat memilih mengunci keuntungan. Masalahnya, koreksi tersebut kemudian bertemu dengan tekanan makro. Dan di sinilah ceritanya menjadi lebih menarik.

Bukan cuma Trump–Xi, yield ikut berbicara

Salah satu faktor penting yang muncul pada 24 September adalah kenaikan yield Treasury Amerika Serikat. Yield Treasury 10 tahun kembali berada di atas 5%, bahkan mencapai level tertinggi sejak 2007 menurut laporan pasar. Kenapa angka ini penting untuk Bitcoin? Karena Treasury adalah instrumen yang memberikan imbal hasil.

Ketika yield obligasi pemerintah naik tinggi, investor mempunyai alternatif aset yang menawarkan return dengan risiko yang berbeda dibanding aset seperti Bitcoin. Akibatnya, hurdle rate untuk aset berisiko ikut meningkat. Dengan bahasa sederhana Yield naik → biaya uang meningkat → aset berisiko mendapat tekanan.

Bitcoin akhirnya ikut masuk dalam radar tersebut.

Data ekonomi AS ikut mengubah suasana

Kenaikan yield juga tidak muncul begitu saja. Data aktivitas bisnis Amerika Serikat yang lebih kuat dari perkiraan ikut membuat pasar kembali memperhitungkan kemungkinan suku bunga bertahan tinggi lebih lama.

CoinDesk melaporkan survei bisnis AS menunjukkan aktivitas tumbuh pada laju tercepat dalam lebih dari lima tahun, sementara lelang Treasury lima tahun juga menunjukkan permintaan yang tidak terlalu kuat. Situasi tersebut membuat pasar kembali bertanya Kalau ekonomi masih kuat, apakah tekanan inflasi benar-benar sudah selesai?

Pertanyaan itu penting bagi pasar. Sebab semakin kuat ekspektasi bahwa suku bunga perlu tetap tinggi atau bahkan naik, semakin besar tekanan terhadap aset yang sangat sensitif terhadap likuiditas.

Minyak kembali di atas US$100

Ada faktor lain yang ikut memperumit situasi. Harga minyak kembali naik dan Brent sempat berada di sekitar US$104 per barel. Kenaikan minyak menjadi perhatian karena energi merupakan salah satu komponen penting dalam inflasi.

Jika harga energi kembali tinggi, pasar dapat kembali memperhitungkan tekanan inflasi. Dan jika inflasi menjadi lebih sulit turun, ruang untuk pelonggaran moneter juga bisa menjadi lebih terbatas. Jadi rantainya kurang lebih seperti ini Minyak naik → kekhawatiran inflasi → yield naik → tekanan pada aset berisiko → Bitcoin ikut terkoreksi.

Inilah alasan mengapa membaca Bitcoin hanya melalui berita crypto sering kali tidak cukup.

Lalu bagaimana dengan Trump–Xi?

Di sinilah menariknya. Pada hari yang sama, perhatian pasar juga tertuju pada pertemuan Donald Trump dan Xi Jinping. Pertemuan tersebut membahas sejumlah isu besar, termasuk perdagangan, tarif, Taiwan, Iran, AI, serta mineral kritis. Reuters juga melaporkan AS dan China telah menyepakati perpanjangan gencatan perdagangan hingga Januari 2027 untuk memberi ruang bagi pembicaraan yang lebih luas.

Secara teori, stabilitas perdagangan bisa membantu sentimen pasar. Tetapi pasar tidak bergerak hanya berdasarkan satu berita. Pada saat sentimen geopolitik mendapat dukungan, tekanan dari yield dan minyak justru muncul. Itulah sebabnya Bitcoin bisa tetap turun meskipun headline mengenai AS–China terlihat relatif konstruktif. Pasar sedang menghitung banyak variabel sekaligus.

Ini bukan berarti Bitcoin kehilangan seluruh momentumnya

Koreksi tidak otomatis berarti tren sebelumnya sudah berakhir. Bitcoin masih berada jauh di atas level yang diperdagangkan pada awal fase rally September. Bahkan setelah penurunan, Bitcoin masih menunjukkan kenaikan yang cukup besar sepanjang September menurut laporan pasar.

Karena itu, lebih tepat melihat pergerakan 24 September sebagai perubahan keseimbangan antara minat beli + arus ETF melawan profit taking + yield + minyak + ekspektasi suku bunga. Pasar sedang mencari keseimbangan baru.

Ada satu hal yang justru menarik

Koreksi Bitcoin kali ini memberikan gambaran mengenai karakter pasar crypto yang semakin terhubung dengan pasar makro. Dulu, ketika Bitcoin turun, pembahasannya sering berhenti pada Whale jual.

Sekarang ceritanya jauh lebih kompleks. Bitcoin dipengaruhi oleh:

  1. Arus ETF
  2. Yield Treasury
  3. Dolar
  4. Suku bunga
  5. Data ekonomi
  6. Harga minyak
  7. Saham teknologi
  8. Likuiditas global
  9. Hingga sentimen geopolitik

Karena itu, investor yang hanya melihat candlestick BTC bisa kehilangan sebagian cerita besarnya.

Yang perlu diperhatikan setelah koreksi

Ada beberapa hal yang layak masuk radar pasar setelah penurunan ini.

  • Pertama, respons BTC setelah berada di area US$84.000. Apakah pembeli kembali muncul atau tekanan jual berlanjut?
  • Kedua, pergerakan Treasury yield. Jika yield terus tinggi, tekanan terhadap aset berisiko belum tentu selesai.
  • Ketiga, harga minyakKenaikan minyak yang berkelanjutan dapat kembali menghidupkan kekhawatiran inflasi.
  • Keempat, arus ETF Bitcoin. Jika arus dana tetap kuat meskipun harga mengalami koreksi, pasar bisa membaca bahwa permintaan struktural belum hilang. Sebaliknya, perubahan arus dana juga patut diperhatikan.
  • Kelima, respons pasar terhadap hasil Trump–Xi. Yang penting bukan hanya headline kesepakatan.

Pasar akan melihat seberapa konkret hasilnya dan apakah kesepakatan tersebut benar-benar mengurangi ketidakpastian perdagangan.

Jadi, apa yang sebenarnya terjadi pada BTC?

Jawabannya mungkin justru sederhana: Bitcoin sedang berhadapan dengan pasar yang berubah dari sangat optimistis menjadi lebih selektif. Harga sempat mengejar momentum hingga sekitar US$87.300.

Namun kemudian yield Treasury melonjak, minyak kembali naik, data ekonomi AS menunjukkan kekuatan, dan investor mulai menghitung kembali risiko suku bunga. Di sisi lain, arus ETF sebelumnya memberikan dukungan terhadap Bitcoin.

Jadi belum tepat menyederhanakan pergerakan ini menjadiBitcoin jatuh karena Trump–Xi. Lebih akurat jika melihatnya sebagai benturan beberapa kekuatan pasar sekaligus. Dan justru di situlah menariknya. Bitcoin bukan hanya sedang melawan seller. Bitcoin sedang berhadapan dengan yield, inflasi, likuiditas, sentimen risiko, dan ekspektasi investor global dalam waktu yang sama.

Kesimpulan

Koreksi Bitcoin pada 24 September 2026 menunjukkan bahwa pasar belum berjalan dalam satu arah. BTC memang sempat menembus sekitar US$87.000, tetapi kenaikan tersebut kemudian berhadapan dengan tekanan dari kenaikan yield Treasury dan harga minyak.

Sementara itu, perkembangan Trump–Xi tetap menjadi faktor penting untuk sentimen global, terutama karena perdagangan AS–China dapat memengaruhi rantai pasok, inflasi, dan pertumbuhan ekonomi.

Jadi pertanyaan berikutnya bukan sekadar Bitcoin bisa naik lagi atau tidak tapi yang lebih penting adalah Apakah permintaan Bitcoin masih cukup kuat untuk menyerap tekanan dari pasar makro?

Jawabannya akan terlihat dari kombinasi harga BTC, arus ETF, yield Treasury, dolar, dan respons investor setelah perkembangan geopolitik terbaru. Itulah radar yang lebih menarik untuk diperhatikan.

Catatan: Artikel ini bersifat informatif dan analitis, bukan ajakan membeli atau menjual aset tertentu.

Baca Juga
    Oops!
    Koneksi internet Kamu sepertinya bermasalah. Cek koneksi internet dan coba lagi
    AdBlock Detected!

    Kami mendeteksi Anda menggunakan pemblokir iklan (AdBlock).
    Pendapatan dari iklan digunakan untuk mengelola situs web ini, mohon matikan pemblokir iklan atau masukkan situs kami ke dalam daftar putih (whitelist)