News
Loading latest update...

Trump–Xi Mulai Redakan Perang Dagang, Tapi Pasar Belum Tentu Langsung Tenang

Trump dan Xi memperpanjang gencatan dagang AS-China. Namun yield Treasury, harga minyak, suku bunga, dan Bitcoin menunjukkan pasar belum tenang

Radar Investor — Hubungan Amerika Serikat dan China kembali menjadi perhatian pasar global setelah Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping bertemu di Washington pada 24 September 2026.

Trump dan Xi bertemu di tengah perpanjangan gencatan dagang AS-China dan tekanan pasar dari yield Treasury serta harga minyak
TRUMP–XI REDAKAN PERANG DAGANG


Sebelum pertemuan berlangsung, kedua negara sudah mencapai kesepakatan untuk memperpanjang gencatan perdagangan hingga 10 Januari 2027. Perpanjangan tersebut memberi ruang bagi Washington dan Beijing untuk melanjutkan pembicaraan mengenai kesepakatan perdagangan yang lebih besar.

Sekilas, kabar tersebut terlihat positif. Tetapi pasar tidak hanya melihat apakah perang dagang mereda atau tidak. Investor juga melihat apa dampaknya terhadap inflasi, suku bunga, yield obligasi, dolar, pertumbuhan ekonomi, hingga aset berisiko seperti saham teknologi dan Bitcoin.

Perang dagang mereda, tetapi ketidakpastian belum hilang

Perpanjangan gencatan dagang memang mengurangi salah satu sumber ketidakpastian bagi perusahaan global. Namun, Reuters mencatat agenda Trump–Xi masih mencakup sejumlah persoalan sensitif, mulai dari perdagangan dan teknologi hingga Taiwan dan Iran. Artinya, hubungan AS–China belum bisa dianggap sepenuhnya kembali normal.

Ini penting bagi pasar. Sebab pasar keuangan tidak bergerak hanya berdasarkan satu berita. Investor biasanya mencoba menghitung efek lanjutan dari sebuah kebijakan. Jika tarif turun, misalnya, biaya perdagangan dapat lebih terkendali.

Jika hambatan perdagangan berkurang, rantai pasok global berpotensi menjadi lebih stabil. Tetapi jika pada saat yang sama harga energi tetap tinggi dan biaya pendanaan meningkat, efek positif tersebut bisa menjadi lebih terbatas. Di sinilah persoalannya.

Yield Treasury menjadi variabel yang tidak bisa diabaikan

Pada 23 September, data resmi Departemen Keuangan AS menunjukkan yield Treasury 10 tahun berada di 5,11%. Level tersebut menjadi perhatian karena yield obligasi pemerintah AS merupakan salah satu acuan penting dalam menentukan biaya modal global.

Ketika yield meningkat, aset-aset berisiko menghadapi lingkungan yang berbeda. Investor memiliki alternatif untuk mendapatkan imbal hasil dari instrumen berpendapatan tetap, sementara perusahaan dan konsumen juga menghadapi biaya pembiayaan yang lebih tinggi. Karena itu, meskipun hubungan AS–China terlihat lebih stabil, pasar tetap harus berhadapan dengan persoalan suku bunga dan biaya modal.

Dengan kata lain satu risiko berkurang, tetapi risiko lainnya masih berada di meja.

Lalu apa hubungannya dengan Bitcoin?

Bitcoin berada di persimpangan antara narasi aset digital dan aset berisiko. Ketika likuiditas global longgar dan investor berani mengambil risiko, Bitcoin dapat memperoleh dukungan dari meningkatnya minat terhadap aset berisiko.

Sebaliknya, ketika yield meningkat dan pasar mulai memperhitungkan suku bunga yang lebih tinggi, tekanan terhadap aset berisiko dapat muncul. Pergerakan Bitcoin pada 24 September memperlihatkan bagaimana faktor makro tetap relevan.

Bitcoin sempat turun sekitar 2,9% ke area US$83.378 dalam perdagangan awal hari tersebut, ketika kenaikan yield Treasury dan harga minyak meningkatkan kekhawatiran mengenai suku bunga.

Jadi, membaca Bitcoin hanya dari hasil pertemuan Trump–Xi akan terlalu sederhana.

Minyak menjadi faktor lain

Ada faktor lain yang juga sedang diperhatikan pasar: energi. Reuters melaporkan Brent kembali bergerak di atas US$100 per barel pada 24 September di tengah ketidakpastian konflik Timur Tengah dan hubungan AS–Iran.

Harga minyak yang tinggi dapat meningkatkan tekanan inflasi. Dan jika inflasi bertahan tinggi, pasar dapat kembali memperhitungkan kemungkinan suku bunga yang lebih tinggi atau lebih lama.

Rantai sederhananya bisa digambarkan seperti ini:

  • Minyak naik → tekanan inflasi meningkat → ekspektasi suku bunga berubah → yield naik → aset berisiko mendapat tekanan.

Karena itu, berita positif dari Washington dan Beijing belum tentu otomatis menghapus tekanan makro lainnya.

Pasar bisa menghadapi fase good news, mixed reaction

Ini bagian yang menarik. Perpanjangan gencatan dagang AS–China merupakan perkembangan yang dapat mengurangi ketidakpastian perdagangan. Namun, reaksi pasar tetap bergantung pada konteks yang lebih luas.

Jika investor melihat kesepakatan tersebut hanya sebagai penundaan konflik, reaksi positif bisa terbatas. Sebaliknya, jika pembicaraan menghasilkan kesepakatan perdagangan yang lebih konkret, dampaknya terhadap sentimen global dapat menjadi lebih besar.

Masalahnya, proses menuju kesepakatan tersebut masih berlangsung. Reuters melaporkan kedua negara menggunakan perpanjangan gencatan untuk memberi waktu menyelesaikan kesepakatan yang lebih besar. Jadi pasar belum hanya menunggu kata damai. Pasar menunggu detailnya.

Bitcoin tidak hanya membaca Trump dan Xi

Bagi investor crypto, ini poin yang cukup penting. Bitcoin memang dapat bereaksi terhadap berita geopolitik. Tetapi harga BTC tidak ditentukan oleh satu variabel.

Saat ini setidaknya ada beberapa faktor yang berjalan bersamaan:

  • hubungan AS–China;
  • kebijakan tarif;
  • yield Treasury;
  • ekspektasi suku bunga Federal Reserve;
  • harga minyak;
  • likuiditas global;
  • arus dana ke aset berisiko;
  • dan sentimen investor terhadap crypto.

Itulah sebabnya sebuah berita positif dapat muncul bersamaan dengan harga Bitcoin yang justru mengalami koreksi. Bukan berarti berita tersebut tidak penting. Pasar hanya sedang menimbangnya bersama faktor lainnya.

Apa yang perlu diperhatikan setelah pertemuan Trump–Xi?

Bukan sekadar apakah kedua pemimpin terlihat akur. Investor justru perlu memperhatikan beberapa hal berikut:

  • Pertama, detail perdagangan. Apakah perpanjangan gencatan hanya bersifat sementara atau menghasilkan kemajuan konkret menuju kesepakatan yang lebih besar?
  • Kedua, teknologi dan rantai pasok. Isu teknologi dan mineral kritis tetap menjadi bagian penting dalam hubungan AS–China.
  • Ketiga, yield Treasury. Jika yield tetap tinggi, aset berisiko masih menghadapi lingkungan pendanaan yang ketat.
  • Keempat, harga minyak. Kenaikan energi dapat kembali menjadi sumber tekanan inflasi.
  • Kelima, reaksi Bitcoin. Bukan hanya apakah BTC naik atau turun setelah berita keluar, tetapi apakah pergerakannya mampu bertahan setelah pasar mencerna seluruh informasi.

Kesimpulan

Pertemuan Trump–Xi memang membawa sinyal bahwa kedua negara masih memiliki ruang untuk bernegosiasi. Perpanjangan gencatan perdagangan hingga Januari 2027 juga mengurangi sebagian ketidakpastian perdagangan dalam jangka pendek.

Namun, pasar global tidak hanya berhadapan dengan perang dagang. Yield Treasury masih tinggi, harga minyak berada di level yang menjadi perhatian, dan ekspektasi terhadap kebijakan suku bunga tetap menjadi faktor penting.

Karena itu, hubungan AS–China yang lebih tenang belum otomatis berarti seluruh pasar akan ikut tenang. Untuk Bitcoin, justru di sinilah menariknya. BTC sedang berada di tengah persimpangan geopolitik, suku bunga, yield, likuiditas, dan sentimen risiko.

Dan seperti biasa, pasar sering kali tidak bergerak berdasarkan berita yang paling ramai dibicarakan. Pasar bergerak berdasarkan apa yang berubah setelah berita tersebut masuk ke dalam perhitungan investor.

See Beyond the Market.

Baca Juga
    Oops!
    Koneksi internet Kamu sepertinya bermasalah. Cek koneksi internet dan coba lagi
    AdBlock Detected!

    Kami mendeteksi Anda menggunakan pemblokir iklan (AdBlock).
    Pendapatan dari iklan digunakan untuk mengelola situs web ini, mohon matikan pemblokir iklan atau masukkan situs kami ke dalam daftar putih (whitelist)