News
Loading latest update...

Perusahaan Untung Besar, Tapi Sahamnya Malah Turun. Kok Bisa?

Kenapa saham bisa turun padahal perusahaan mencatat laba besar? Pahami peran ekspektasi pasar, valuasi, prospek bisnis, dan sentimen investor.

Radar Investor —Ada satu hal yang sering membuat investor pemula bingung. Sebuah perusahaan mengumumkan laba yang besar.

Ilustrasi perusahaan mencatat laba meningkat tetapi harga saham turun akibat ekspektasi pasar
Laba Naik Saham Turun

  1. Pendapatannya naik
  2. Bisnisnya terlihat semakin kuat

Tapi setelah laporan keuangan keluar harga saham justru turun. Bagaimana mungkin?

Kalau perusahaan menghasilkan lebih banyak uang, bukankah seharusnya harga saham naik? Jawabannya ada pada satu konsep penting yang sering terlupakan:  Pasar saham tidak hanya melihat apa yang sudah terjadi. Pasar juga mencoba menilai apa yang akan terjadi berikutnya.

Pasar tidak hanya membeli masa lalu

Ketika sebuah perusahaan mengumumkan laba Rp10 triliun, angka tersebut sebenarnya menggambarkan kinerja yang sudah terjadi. Investor kemudian bertanya

  1. Bagaimana kinerja perusahaan setelah ini?
  2. Apakah laba akan terus tumbuh
  3. Apakah pendapatan akan meningkat
  4. Apakah margin keuntungan akan bertahan?
  5. Apakah perusahaan menghadapi biaya yang lebih tinggi?
  6. Apakah manajemen memberikan prospek yang lebih lemah?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut dapat memengaruhi harga saham. Investor.gov menjelaskan bahwa harga saham dapat bergerak karena berbagai faktor, termasuk kondisi perusahaan, permintaan konsumen, perubahan ekonomi, biaya, manajemen, dan perubahan pandangan investor terhadap perusahaan. Jadi, laba besar bukan satu-satunya bahan bakar harga saham.

Contoh sederhananya

Bayangkan sebuah perusahaan diperkirakan akan menghasilkan laba Rp10 triliun. Kemudian laporan keluar, ternyata labanya mencapai Rp12 triliun.

Sekilas kabarnya sangat bagus. Tetapi ternyata investor sebelumnya sudah memperkirakan laba Rp13 triliun. Artinya perusahaan memang menghasilkan laba besar. Namun hasilnya lebih rendah dari ekspektasi pasar. Akibatnya, harga saham bisa turun.

Di sinilah muncul prinsip penting Pasar tidak hanya membandingkan hasil dengan masa lalu. Pasar juga membandingkan hasil dengan ekspektasi.

Good news belum tentu menjadi kabar baik untuk saham

Ini salah satu hal paling menarik di pasar. Berita: Laba perusahaan naik 20%.

  • Secara bisnis, terdengar positif
  • Tetapi investor bisa bertanya , Bukankah seharusnya naik 30%?

Jika ekspektasi pasar sudah lebih tinggi, kenaikan laba 20% bisa dianggap kurang memuaskan. Sebaliknya, perusahaan yang labanya hanya naik 5% bisa mengalami reaksi berbeda jika pasar sebelumnya memperkirakan labanya turun.

Artinya: Berita yang sama bisa menghasilkan reaksi pasar yang berbeda tergantung ekspektasi sebelumnya. FINRA juga mencatat bahwa saham dapat turun setelah perusahaan melampaui estimasi jika prospek masa depan yang diberikan perusahaan mengecewakan.

Harga saham sering bergerak sebelum laporan keluar

Ini juga menjelaskan mengapa kadang harga saham sudah naik jauh sebelum perusahaan mengumumkan kinerja. Investor tidak selalu menunggu laporan resmi. Mereka membuat perkiraan.

Jika banyak investor memperkirakan hasil perusahaan akan bagus, pembelian saham bisa terjadi sebelum laporan keluar, Harga kemudian naik. Ketika laporan akhirnya keluar dan ternyata hasilnya sesuai perkiraan, tidak selalu ada alasan baru bagi investor untuk terus membeli.

Akibatnya, saham bisa berhenti naik,bahkan bisa turun. Bukan karena laporan perusahaan buruk. Tetapi karena informasi tersebut sudah tercermin dalam harga sebelumnya.

Inilah yang sering disebut priced in

Sederhananya, priced in berarti informasi atau ekspektasi tertentu sudah tercermin dalam harga. Misalnya Pasar memperkirakan laba akan meningkat.

  1. Investor membeli saham
  2. Harga naik
  3. Kemudian laporan keluar dan laba memang meningkat

Kalau tidak ada kejutan positif baru, sebagian investor mungkin memilih mengambil keuntungan. Hasil akhirnya Laba naik, tetapi saham tidak ikut naik atau bahkan bisa turun.

Ini bukan aturan pasti. Tetapi merupakan salah satu cara memahami mengapa harga saham tidak selalu bergerak searah dengan berita yang terlihat positif.

Investor juga melihat masa depan perusahaan

Bayangkan sebuah perusahaan menghasilkan laba besar tahun ini.

Namun manajemen mengatakan tahun depan:

  • penjualan mungkin melambat,
  • biaya bahan baku meningkat,
  • ekspansi membutuhkan modal besar,
  • persaingan semakin ketat.

Investor mungkin menilai masa depan perusahaan menjadi kurang menarik dibanding sebelumnya. Harga saham kemudian bisa turun meskipun laporan tahun berjalan terlihat bagus.

Karena pada akhirnya, harga saham bukan hanya tentang: Berapa besar perusahaan menghasilkan uang sekarang Tetapi juga Berapa besar keuntungan yang mungkin dihasilkan perusahaan di masa depan dan berapa harga yang harus dibayar untuk mendapatkannya?”

Valuasi juga punya peran

Dua perusahaan bisa memiliki laba yang sama, tetapi harga sahamnya bisa berbeda jauh. Mengapa?

Karena investor memberikan valuasi yang berbeda berdasarkan pertumbuhan, risiko, kualitas bisnis, arus kas, dan berbagai faktor lainnya. Perusahaan dengan pertumbuhan tinggi bisa dihargai dengan valuasi yang lebih tinggi.

Tetapi jika pertumbuhannya kemudian melambat, valuasinya bisa mengalami tekanan. Jadi, perusahaan bagus belum tentu berarti sahamnya selalu naik. Harga yang dibayar investor juga penting.

Ada perbedaan antara perusahaan bagus dan saham yang sedang murah

Ini salah satu konsep paling penting bagi investor. Perusahaan bisa memiliki:

  • produk bagus,
  • laba besar,
  • utang terkendali,
  • pelanggan banyak,
  • dan pertumbuhan kuat.

Tetapi jika harga sahamnya sudah sangat tinggi dibanding ekspektasi terhadap bisnisnya, ruang kenaikannya bisa berbeda. Sebaliknya, perusahaan yang sedang menghadapi masalah bisa memiliki saham yang sudah turun jauh.

Namun murah bukan berarti otomatis menarik. Investor tetap perlu memahami alasan di balik harga tersebut. Karena itu Perusahaan bagus dan saham murah adalah dua pertanyaan yang berbeda.

Lalu siapa yang menentukan harga?

Pada akhirnya, harga saham terbentuk dari transaksi antara pembeli dan penjual di pasar.

  1. Jika permintaan pembelian lebih kuat, harga dapat terdorong naik
  2. Jika tekanan jual lebih besar, harga dapat turun

Dan keputusan para pelaku pasar dipengaruhi banyak hal:

  • laporan keuangan,
  • prospek perusahaan,
  • kondisi ekonomi,
  • suku bunga,
  • sentimen,
  • berita,
  • valuasi,
  • dan ekspektasi terhadap masa depan.

Investor.gov juga menekankan bahwa harga saham dapat berfluktuasi bahkan ketika perusahaan tidak berada dalam kondisi gagal, karena banyak faktor perusahaan dan pasar yang memengaruhinya.

Jadi, jangan hanya melihat judul berita

Ini kesalahan yang cukup umum. Membaca Laba naik 50% lalu langsung menyimpulkan Saham pasti naik. Padahal masih ada pertanyaan lain.

  1. Berapa ekspektasi sebelumnya
  2. Apakah pertumbuhan laba berkelanjutan?
  3. Bagaimana pendapatan?
  4. Bagaimana margin?
  5. Bagaimana utang?
  6. Bagaimana arus kas?
  7. Apa pandangan manajemen untuk periode berikutnya? Dan yang tidak kalah penting
  8. berapa harga saham sebelum berita tersebut keluar?

Satu angka tidak cukup untuk menjelaskan pergerakan pasar.

Pasar bukan mesin yang membaca berita secara sederhana

Inilah bagian paling penting, pasar saham bukan seperti mesin:

  • berita bagus → harga naik
  • berita buruk → harga turun

Realitasnya jauh lebih kompleks. Yang sering terjadi adalah: berita → dibandingkan dengan ekspektasi → dinilai terhadap valuasi → investor mengambil keputusan → harga bergerak.

Karena itu, dua orang bisa membaca laporan yang sama tetapi mengambil keputusan yang berbeda.

  • Satu melihat pertumbuhan
  • Yang lain melihat valuasi terlalu tinggi
  • Satu melihat laba meningkat
  • Yang lain khawatir pertumbuhan akan melambat

Pasar kemudian menjadi tempat semua pandangan tersebut bertemu.

Kesimpulan

Perusahaan bisa mencatat laba besar tetapi sahamnya tetap turun. Bukan berarti pasar tidak menghargai keuntungan perusahaan. Sering kali persoalannya adalah ekspektasi. Jika hasil perusahaan sudah diantisipasi, harga mungkin telah bergerak sebelumnya.

Jika hasilnya di bawah ekspektasi, saham bisa turun meskipun laba tetap meningkat. Jika perusahaan memberikan prospek yang lebih lemah, investor juga bisa menilai ulang harga saham.

Karena itu, ketika melihat berita: Laba perusahaan melonjak, jangan berhenti di sana. Pertanyaan berikutnya justru lebih penting Apakah hasil tersebut lebih baik atau lebih buruk dari apa yang sudah diharapkan pasar?

Karena di pasar saham, yang menggerakkan harga bukan hanya apa yang terjadi. Tetapi juga apa yang sudah diharapkan, apa yang berubah, dan apa yang diperkirakan akan terjadi berikutnya.

Radar Investor — See Beyond the Market.

Baca Juga
    Oops!
    Koneksi internet Kamu sepertinya bermasalah. Cek koneksi internet dan coba lagi
    AdBlock Detected!

    Kami mendeteksi Anda menggunakan pemblokir iklan (AdBlock).
    Pendapatan dari iklan digunakan untuk mengelola situs web ini, mohon matikan pemblokir iklan atau masukkan situs kami ke dalam daftar putih (whitelist)