Artificial intelligence atau AI selama ini lebih sering dipandang sebagai mesin pertumbuhan ekonomi. Teknologi ini meningkatkan produktivitas, mempercepat otomatisasi, dan mendorong investasi baru.
Namun, di China muncul persoalan yang lebih kompleks. Huang Yiping, anggota komite kebijakan moneter People's Bank of China (PBOC), memperingatkan bahwa perkembangan dan penerapan AI yang semakin cepat justru dapat memperdalam ketidakseimbangan antara pasokan yang kuat dan permintaan yang lemah dalam perekonomian China. Pernyataan tersebut disampaikan dalam sebuah forum ekonomi di Beijing pada 19 September 2026.
Masalahnya bukan karena AI dianggap buruk. Justru sebaliknya, AI dapat membuat perusahaan memproduksi lebih banyak barang dan jasa dengan biaya serta waktu yang lebih efisien. Persoalannya adalah apakah permintaan masyarakat dapat tumbuh dengan kecepatan yang sama.
Ketika produksi tumbuh lebih cepat daripada konsumsi
China sedang menghadapi situasi ekonomi yang cukup unik. Sektor industri dan teknologi tetap menunjukkan kekuatan, sementara konsumsi domestik belum pulih secara seimbang. Reuters melaporkan bahwa output industri China pada Agustus 2026 tumbuh 5,2% secara tahunan, didorong antara lain oleh sektor teknologi, termasuk AI dan manufaktur maju.
Namun pada periode yang sama, penjualan ritel hanya meningkat 0,4%. Investasi properti bahkan mengalami penurunan 19,9% secara tahunan. Angka tersebut menggambarkan persoalan yang sedang dihadapi Beijing kapasitas produksi bertambah, tetapi konsumen belum cukup kuat untuk menyerap seluruh peningkatan tersebut.
Jika tren tersebut berlangsung lama, perusahaan dapat menghadapi persaingan yang semakin ketat, margin keuntungan yang tertekan, dan kebutuhan untuk mencari pasar di luar negeri.
AI dapat memperbesar kapasitas produksi
Di sinilah perkembangan AI menjadi penting. AI dapat membantu perusahaan meningkatkan efisiensi produksi, mengotomatisasi pekerjaan, mengoptimalkan rantai pasok, hingga mempercepat pengembangan produk.
Dalam kondisi permintaan yang kuat, peningkatan produktivitas merupakan keuntungan besar. Tetapi ketika permintaan domestik masih lemah, peningkatan kapasitas produksi yang terlalu cepat dapat memperbesar kesenjangan antara barang yang tersedia dan kemampuan konsumen untuk membelinya.
Huang Yiping mengatakan bahwa semakin luas AI diterapkan dan semakin cepat inovasi berlangsung, ketidakseimbangan antara pasokan dan permintaan dapat semakin dalam dan bertahan lebih lama. Ini bukan berarti AI secara otomatis menyebabkan perlambatan ekonomi. Yang menjadi perhatian adalah ketidakseimbangan antara kemampuan memproduksi dan kemampuan menyerap produksi tersebut.
China sudah bergantung pada permintaan dari luar negeri
Persoalan tersebut juga berkaitan dengan perdagangan global. Dalam beberapa bulan terakhir, ekspor China mendapat dukungan kuat dari permintaan luar negeri terhadap produk teknologi tinggi dan produk terkait AI. Pada Agustus, ekspor China meningkat 25% secara tahunan dalam denominasi dolar AS, sementara impor naik 28,2%.
Ekspor yang kuat membantu menopang pertumbuhan ketika konsumsi domestik masih lemah. Namun, ketergantungan yang terlalu besar terhadap pasar luar negeri juga memiliki risiko.
China menghadapi tekanan dari sejumlah mitra dagang yang menginginkan Beijing mengurangi ketergantungan terhadap ekspor dan meningkatkan konsumsi domestik. Kekhawatirannya adalah kapasitas industri yang berlebihan dapat mendorong semakin banyak produk China masuk ke pasar global.
Dengan kata lain, AI dapat memperkuat daya saing industri China sekaligus memperbesar tantangan yang muncul jika permintaan domestik tidak ikut meningkat.
Apa yang disarankan penasihat bank sentral China?
Huang Yiping tidak hanya menyoroti persoalan AI. Ia menyerukan agar China memperkuat reformasi berorientasi pasar, memberikan peran lebih besar kepada mekanisme pasar dalam alokasi sumber daya, serta meningkatkan porsi pendapatan rumah tangga dalam perekonomian.
Ia juga menyarankan pemerintah pusat mempertimbangkan peningkatan pinjaman untuk membantu memperbaiki neraca keuangan pemerintah daerah, lembaga keuangan, dan perusahaan. Menurut Huang, stimulus akan memiliki dampak terbatas jika kemampuan entitas-entitas tersebut untuk melakukan aktivitas ekonomi baru belum dipulihkan.
Ini menunjukkan bahwa persoalan yang dihadapi China bukan hanya soal teknologi. AI hanyalah salah satu faktor yang dapat memperkuat dinamika ekonomi yang sudah ada.
Apa artinya bagi investor?
Bagi investor, perkembangan ini memberikan satu hal penting untuk diperhatikan: pertumbuhan sektor teknologi tidak selalu berarti seluruh perekonomian berada dalam kondisi yang sama kuat. Sektor AI, robotika, baterai, dan manufaktur maju dapat tumbuh pesat, tetapi pada saat yang sama konsumsi rumah tangga dan properti masih menghadapi tekanan.
Artinya, investor perlu membedakan antara:
- pertumbuhan sektor teknologi;
- pertumbuhan produksi industri;
- pertumbuhan konsumsi masyarakat;
- kondisi sektor properti; dan
- kemampuan pemerintah mendorong pemulihan ekonomi.
Jika investasi AI terus meningkat tetapi konsumsi domestik tidak mengalami perbaikan yang sepadan, maka persaingan antarprodusen dapat meningkat. Sebaliknya, apabila China berhasil memperkuat konsumsi domestik sekaligus mempertahankan peningkatan produktivitas dari AI, teknologi tersebut dapat menjadi salah satu sumber pertumbuhan jangka panjang.
Bukan berarti AI adalah ancaman bagi ekonomi China
Peringatan mengenai AI perlu ditempatkan dalam konteks yang tepat. Huang Yiping tidak mengatakan bahwa AI akan menghancurkan ekonomi China. Poin utamanya adalah bahwa AI dapat memperdalam ketidakseimbangan yang sudah ada apabila peningkatan pasokan tidak diimbangi dengan pertumbuhan permintaan.
Ini merupakan perbedaan penting. AI dapat meningkatkan produktivitas dan menciptakan industri baru. Namun, manfaat tersebut akan lebih kuat bagi perekonomian jika peningkatan kapasitas produksi berjalan bersama dengan peningkatan pendapatan dan konsumsi masyarakat.
Kesimpulan
China sedang menghadapi fase baru dalam perkembangan ekonominya. Di satu sisi, AI dan teknologi tinggi memberikan dorongan terhadap industri, ekspor, dan produktivitas. Di sisi lain, konsumsi domestik masih relatif lemah dan sektor properti belum sepenuhnya pulih.
Peringatan dari penasihat kebijakan moneter PBOC menunjukkan bahwa perkembangan AI tidak hanya perlu dilihat dari sisi teknologi, tetapi juga dari keseimbangan antara produksi dan permintaan.
Bagi investor global, perkembangan ini menjadi salah satu indikator yang patut dipantau: apakah AI akan membantu China menciptakan pertumbuhan yang lebih produktif dan berbasis konsumsi, atau justru membuat kapasitas produksi tumbuh lebih cepat daripada permintaan.
Untuk saat ini, jawabannya masih bergantung pada bagaimana kebijakan ekonomi China berkembang dan seberapa cepat konsumsi domestik dapat pulih.
Sumber: Reuters, 19 September 2026; data ekonomi China yang dilaporkan Reuters pada September 2026.