Radar Investor — Pasar • Investasi • Teknologi • Ekonomi
Selama ini, credit score dikenal sebagai alat untuk mengukur kemampuan seseorang atau perusahaan dalam memenuhi kewajiban finansial. Bank melihat riwayat pembayaran, utang, pendapatan, dan sejumlah data lain sebelum menentukan apakah seseorang layak mendapatkan pinjaman.
![]() |
| CREDIT SCORING GLOBAL |
China menjadi salah satu contoh menarik dari perkembangan tersebut. Pada Maret 2025, pemerintah China menerbitkan pedoman untuk meningkatkan sistem social credit dengan tujuan memperkuat sistem kredit yang mencakup berbagai jenis entitas serta mengintegrasikannya lebih jauh ke dalam aktivitas sosial dan ekonomi. Dokumen tersebut juga menyebut penggunaan informasi kredit dalam berbagai aktivitas ekonomi dan menekankan perlindungan keamanan informasi serta hak individu.
Tetapi ada satu hal penting yang perlu diluruskan.
China Tidak Memiliki Satu Angka Sosial untuk Semua Warga
Gambaran bahwa setiap warga China memiliki satu angka social credit score yang menentukan seluruh kehidupannya tidak menggambarkan sistem yang sebenarnya.
Kajian Brookings menjelaskan bahwa sistem kredit sosial China merupakan kumpulan mekanisme dan basis data yang digunakan oleh berbagai lembaga untuk mencatat kepatuhan terhadap hukum, regulasi, dan kewajiban tertentu. Tidak terdapat satu skor nasional tunggal yang menentukan apakah seseorang dianggap baik atau buruk.
Hal ini penting karena pembahasan mengenai masa depan credit scoring sering kali tercampur dengan narasi mengenai social credit score. Padahal, perkembangan yang lebih nyata dan relevan bagi dunia investasi justru berada pada semakin luasnya penggunaan data untuk menilai risiko ekonomi. Dan tren tersebut tidak hanya terjadi di China.
Ketika Data Menjadi Bagian dari Penilaian Risiko
Sistem keuangan tradisional biasanya mengandalkan data seperti pendapatan, laporan keuangan, aset, utang, dan riwayat pembayaran. Teknologi memungkinkan sumber informasi menjadi jauh lebih beragam. Misalnya Data transaksi → perilaku pembayaran → aktivitas bisnis → identitas digital → AI → penilaian risiko
Bagi bank dan fintech, semakin banyak informasi yang tersedia dapat membantu mereka memperkirakan kemampuan pembayaran calon peminjam.
Bank for International Settlements (BIS) pada 2026 juga menyoroti bahwa AI dapat membantu proses pemberian kredit dengan menganalisis pola transaksi, arus pembayaran, dan aktivitas bisnis. Pendekatan tersebut berpotensi membantu calon peminjam yang memiliki riwayat kredit formal yang masih terbatas.
Artinya, masa depan credit scoring tidak harus berupa sebuah angka yang muncul di layar. Bisa jadi yang jauh lebih penting adalah infrastruktur data di belakang angka tersebut.
Bagaimana Jika Konsep Ini Semakin Global?
- Bayangkan sistem keuangan di masa depan semakin terhubung.
- Seseorang melakukan transaksi melalui bank.
- Kemudian menggunakan fintech.
- Memiliki dompet digital.
- Membayar tagihan secara elektronik.
- Menjalankan bisnis melalui platform digital.
Konsep open finance bahkan mendorong penggunaan data pelanggan yang telah memberikan izin untuk meningkatkan inovasi, persaingan, dan inklusi keuangan. BIS menyebut interoperabilitas serta kerangka regulasi yang kuat sebagai bagian penting dari perkembangan tersebut.
Inilah titik di mana credit scoring mulai berubah. Bukan lagi sekadar Apakah orang ini pernah membayar pinjaman tepat waktu tetapi semakin dekat ke pertanyaan seberapa besar risiko ekonomi yang dapat diperkirakan dari seluruh data yang tersedia?
Ada Peluang Besar untuk Dunia Keuangan
Jika diterapkan dengan aturan yang jelas, sistem penilaian berbasis data dapat memberikan beberapa manfaat.
- Kredit dapat diproses lebih cepat. AI dapat membantu lembaga keuangan memproses informasi dalam jumlah besar tanpa harus melakukan semuanya secara manual.
- UMKM berpotensi mendapatkan akses pembiayaan. Bisnis kecil sering tidak memiliki laporan keuangan yang lengkap atau aset besar untuk dijadikan jaminan. Data transaksi dan arus kas dapat memberikan informasi tambahan mengenai kemampuan bisnis tersebut dalam membayar pinjaman.
- Fraud lebih mudah dideteksi. Semakin banyak data yang dianalisis secara real-time, semakin besar kemampuan sistem untuk mendeteksi pola transaksi yang tidak biasa.
- Resiko dapat dihitung lebih cepat. Bagi bank dan fintech, kemampuan mengukur risiko dengan cepat dapat menjadi keunggulan bisnis.
Namun, semua manfaat tersebut bergantung pada satu syarat penting yaitu data yang digunakan harus benar dan sistemnya harus dapat dipertanggungjawabkan.
Masalah Terbesarnya: Ketika Algoritma Salah
Di sinilah perkembangan credit scoring berbasis AI menjadi menarik sekaligus kompleks. Algoritma bukan sesuatu yang bebas dari kesalahan. BIS memperingatkan bahwa AI dalam keuangan membawa risiko bias, keputusan yang sulit dijelaskan, masalah privasi, risiko model, konsentrasi penyedia teknologi, dan risiko siber.
Bayangkan seseorang ditolak mendapatkan kredit. Kemudian alasannya hanya Sistem menilai Anda berisiko. Pertanyaannya menjadi: Mengapa?
Jika manusia tidak dapat memahami bagaimana keputusan tersebut dibuat yg terjadi adalah membuat masalah baru muncul.
Karena keputusan yang menentukan akses seseorang terhadap kredit dapat berdampak langsung terhadap kehidupan ekonominya.
Dari Sini Muncul Ekonomi Baru Berbasis Data
Jika tren tersebut terus berkembang, maka yang bernilai bukan hanya bank atau fintech yang memberikan kredit. Ada ekosistem yang lebih luas di belakangnya.
Data infrastructure
↓
Digital identity
↓
AI & analytics
↓
Credit assessment
↓
Fraud detection
↓
Fintech
↓
Banking & payments
Semakin banyak aktivitas ekonomi berpindah ke sistem digital, semakin penting pula perusahaan yang menyediakan infrastruktur tersebut. Karena itu, bagi investor, pertanyaan yang menarik bukan hanya Siapa yang memiliki credit score tertinggi Tetapi Siapa yang membangun mesin yang menghitung risiko tersebut?
Memberikan Gambaran Mengenai Arah Perkembangan
Pedoman China pada 2025 menunjukkan bahwa pemerintah ingin memperkuat sistem kredit yang mencakup berbagai entitas dan meningkatkan pemanfaatan informasi kredit dalam aktivitas ekonomi. Pada saat yang sama, pemerintah China juga mengembangkan mekanisme credit repair, termasuk prosedur untuk mengajukan keberatan dan memperbaiki informasi kredit tertentu.
Ini menunjukkan sesuatu yang lebih luas. Semakin banyak data digunakan untuk menentukan akses ekonomi, semakin penting pula mekanisme untuk:
- memperbaiki data yang salah,
- mengajukan keberatan,
- melindungi data pribadi,
- membatasi penggunaan informasi,
- dan memastikan keputusan otomatis dapat diawasi.
Dengan kata lain, credit infrastructure membutuhkan governance infrastructure.
Apakah Dunia Akan Memiliki Global Social Credit Score?
Belum tentu. Dan tidak ada dasar yang cukup untuk mengatakan bahwa dunia sedang menuju satu angka global yang akan menentukan seluruh kehidupan seseorang. Perkembangan yang lebih realistis adalah munculnya berbagai sistem penilaian risiko yang berbeda-beda.
- Bank memiliki sistemnya.
- Fintech memiliki sistemnya.
- Perusahaan asuransi memiliki sistemnya.
- Platform pembayaran memiliki sistemnya.
- Perusahaan memiliki sistem penilaian risiko mitra bisnisnya.
- Regulator juga memiliki sistem kepatuhan masing-masing.
Yang mungkin semakin terhubung bukan satu angka global, melainkan jaringan data dan sistem penilaian risiko. Perbedaan ini sangat penting.
Lalu Apa Artinya bagi Investor?
Bagi investor, perkembangan ini membuka satu tema besar:
Data menjadi bagian dari infrastruktur ekonomi.
Jika ekonomi semakin digital, perusahaan yang mampu mengelola identitas, data, keamanan, AI, pembayaran, dan penilaian risiko dapat memainkan peran semakin penting. Namun peluang tersebut datang bersama risiko.
- Perusahaan yang mengumpulkan terlalu banyak data menghadapi risiko regulasi.
- Perusahaan yang menggunakan AI untuk keputusan kredit menghadapi risiko model.
- Perusahaan yang menyimpan data finansial menjadi target penting serangan siber.
- Dan perusahaan yang terlalu bergantung pada satu penyedia teknologi dapat menghadapi risiko konsentrasi.
Karena itu, investor tidak cukup hanya melihat pertumbuhan pengguna atau pendapatan perusahaan. Cara perusahaan memperoleh, menggunakan, melindungi, dan mengatur data juga semakin penting.
Dari China ke Dunia: Yang Perlu Diperhatikan
Perkembangan credit scoring berbasis data tidak harus menghasilkan satu sistem global. Tetapi arah perubahannya cukup jelas Ekonomi semakin digital → data semakin banyak → AI semakin mampu menganalisis data → penilaian risiko semakin otomatis.
Pertanyaannya kemudian bukan apakah teknologi tersebut akan digunakan. Pertanyaan yang lebih penting adalah:
- Seberapa transparan sistemnya?
- Siapa yang memiliki datanya?
- Siapa yang mengendalikan algoritmanya?
- Bagaimana kesalahan diperbaiki?
- Dan siapa yang bertanggung jawab ketika keputusan algoritma merugikan seseorang atau sebuah bisnis?
Bagi pasar dan investor, pertanyaan-pertanyaan tersebut bukan sekadar isu teknologi. Ini menyangkut infrastruktur ekonomi masa depan.
China memberikan salah satu contoh bagaimana sistem kredit dapat diperluas ke berbagai aktivitas ekonomi. Sementara perkembangan AI dan open finance di berbagai negara menunjukkan bahwa penggunaan data untuk menilai risiko juga terus berkembang dengan pendekatan yang berbeda-beda.
Pada akhirnya, masa depan credit scoring mungkin bukan tentang menciptakan satu angka untuk setiap manusia. Melainkan tentang seberapa jauh data dapat mengubah cara dunia mengukur kepercayaan, risiko, dan akses terhadap ekonomi. Dan di situlah peluang sekaligus risikonya mulai terlihat.
