News
Loading latest update...

Obligasi Mulai Masuk Blockchain: India Uji Demat 2.0 dengan Digital Rupee

India menguji tokenisasi obligasi dengan Demat 2.0 dan digital rupee. Simak cara blockchain mengubah settlement pasar modal.

Blockchain selama ini lebih sering dikaitkan dengan Bitcoin, cryptocurrency, dan decentralized finance (DeFi). Namun, penggunaan teknologi tersebut mulai bergerak ke wilayah yang berbeda: pasar modal tradisional.

Tokenisasi obligasi korporasi India melalui blockchain dan digital rupee
BONDS GO ON-CHAIN
India kini sedang menguji sistem yang memungkinkan obligasi korporasi diterbitkan sebagai token digital di atas distributed ledger, sementara pembayaran transaksinya menggunakan digital rupee atau e₹ milik bank sentral. Program tersebut bernama Demat 2.0, sebuah pilot yang diluncurkan oleh Securities and Exchange Board of India (SEBI) bersama Reserve Bank of India (RBI).

Ini bukan sekadar eksperimen cryptocurrency. Sistemnya justru dibangun di dalam infrastruktur pasar keuangan yang diawasi regulator. Dan di situlah perkembangan ini menjadi menarik.

India Menguji Demat 2.0

Pada 10 September 2026, SEBI mengumumkan keberhasilan peluncuran pilot Demat 2.0 untuk tokenised corporate bonds. Dalam sistem ini, obligasi direpresentasikan sebagai token digital pada distributed ledger yang dikelola oleh lembaga infrastruktur pasar yang berwenang.

SEBI menjelaskan bahwa Demat 2.0 dirancang untuk menguji cara baru dalam menerbitkan, menyimpan, memperdagangkan, dan melakukan settlement obligasi korporasi. Sistem tersebut terhubung dengan wholesale CBDC atau e₹ melalui Unified Market Interface milik RBI.

Dengan kata lain, India sedang menguji hubungan langsung antara Obligasi → Blockchain/DLT → Digital Rupee → Settlement. Ini merupakan perubahan pada infrastruktur transaksi, bukan perubahan terhadap hak dasar investor atas obligasi.

Tiga Perusahaan Sudah Menerbitkan Tokenized Bonds

Pilot tersebut bukan lagi sekadar konsep. Menurut SEBI, hingga 10 September 2026 sudah ada tiga penerbit yang menggunakan sistem tersebut dengan total penerbitan ₹1.025 crore. Rinciannya:

  • REC Limited: ₹500 crore dari 18 investor pada 7 September 2026.
  • L&T Limited: ₹500 crore dari 4 investor pada 9 September 2026.
  • IIFL: ₹25 crore dari 1 investor pada 9 September 2026.

Artinya, teknologi tokenisasi sudah mulai digunakan dalam transaksi surat utang korporasi nyata, meskipun masih dalam tahap pilot dan terutama melibatkan peserta institusional. Ini penting dibedakan dari proyek blockchain yang hanya berada pada tahap pengembangan.

Apa yang Sebenarnya Ditokenisasi?

Tokenisasi bukan berarti obligasinya berubah menjadi cryptocurrency. Dalam Demat 2.0, instrumen obligasinya tetap merupakan obligasi korporasi. Yang berubah adalah cara kepemilikan dan transaksi tersebut direpresentasikan serta dicatat secara digital.

SEBI menegaskan bahwa tokenized bonds dalam pilot tetap memiliki karakteristik dan perlindungan hukum yang sama. Kewajiban penerbit untuk membayar, hak investor, credit rating, debenture trustee, listing, dan kewajiban disclosure tetap berlaku.

Jadi, tokenisasi tidak mengubah Apa yang dimiliki investor tetapi lebih kepada Bagaimana kepemilikan tersebut dicatat, dipindahkan, dan diselesaikan? Perbedaan ini penting agar tokenisasi tidak disalahartikan sebagai penerbitan aset crypto baru.

Mengapa Blockchain Dipakai?

Salah satu alasan utama adalah settlement. Dalam sistem keuangan tradisional, perpindahan aset dan perpindahan uang dapat melibatkan beberapa sistem serta proses yang berbeda. Pada Demat 2.0, tokenized bond dihubungkan dengan wholesale digital rupee.

SEBI menyebut mekanisme ini memungkinkan atomic settlement, yaitu aset dan uang bergerak secara bersamaan sehingga risiko salah satu sisi transaksi sudah berpindah sementara sisi lainnya belum selesai dapat dikurangi. Secara sederhana  nya : 

  • Sistem tradisional

Pembeli membayar
Proses settlement
Obligasi berpindah

Ada beberapa tahapan dan sistem yang terlibat.

  • Demat 2.0

Obligasi digital + e₹

Settlement secara bersamaan

Konsep inilah yang membuat tokenisasi menarik bagi industri keuangan.

Digital Rupee Menjadi Bagian Penting

Ada satu hal yang membuat proyek India berbeda dari banyak proyek tokenisasi aset berbasis crypto. India tidak hanya membuat obligasi dalam bentuk token. Mereka juga menghubungkan tokenized Bonds dengan central bank digital currency (CBDC).Dalam proyek ini, uang yang digunakan untuk settlement berasal dari wholesale digital rupee RBI.

Dengan demikian, sistem tersebut menggabungkan dua elemen yaitu Tokenized security dan Central bank digital money. Keduanya kemudian dihubungkan melalui infrastruktur pasar keuangan yang diatur.

Coindesk melaporkan bahwa hubungan tersebut memungkinkan tokenized bond dan pembayaran digital rupee bergerak bersama dalam proses settlement.

Mengapa Ini Berbeda dari DeFi?

Ini bagian yang penting. Ketika mendengar blockchain dan tokenisasi, banyak orang langsung membayangkan DeFi, decentralized exchange, liquidity pool, atau cryptocurrency.

  1. Demat 2.0 menggunakan pendekatan yang berbeda.
  2. Tidak ada upaya untuk menggantikan regulator.
  3. Tidak ada upaya untuk menghilangkan lembaga keuangan.

Dan bukan berarti obligasi tersebut dipindahkan ke blockchain publik tanpa kontrol. Sebaliknya, sistem dibangun bersama SEBI, RBI, dan lembaga infrastruktur pasar. Distributed ledger digunakan sebagai teknologi pencatatan dan settlement dalam lingkungan yang terkontrol. Ini menunjukkan bahwa blockchain dapat digunakan dengan model yang berbeda dari cryptocurrency terbuka.

Apa Keuntungannya bagi Pasar Obligasi?

Jika teknologi ini berhasil diperluas, ada beberapa potensi manfaat.

  1. Settlement Lebih Efisien Dengan aset dan pembayaran terhubung dalam satu mekanisme, proses settlement dapat menjadi lebih efisien.
  2. Pencatatan Lebih Terintegrasi Data kepemilikan dapat dicatat pada distributed ledger yang dapat diakses oleh lembaga yang berwenang.
  3. Pembayaran Kupon Dapat Diotomatisasi Teknologi smart contract berpotensi digunakan untuk mengotomatisasi beberapa proses seperti pembayaran bunga dan redemption. Business Standard melaporkan bahwa pilot India juga mengeksplorasi otomatisasi pembayaran bunga dan redemption melalui smart contract.
  4. Mengurangi Proses Manual. Semakin banyak proses yang dapat dijalankan secara digital, semakin kecil kebutuhan untuk melakukan rekonsiliasi secara manual di antara berbagai sistem.
  5. Infrastruktur Pasar Bisa Menjadi Lebih Programmable. Ini mungkin salah satu perubahan yang paling menarik.

Jika sebuah obligasi direpresentasikan sebagai aset digital yang dapat diprogram, sejumlah proses keuangan dapat dibuat lebih otomatis. Namun, potensi tersebut masih harus dibuktikan melalui implementasi nyata.

Apakah Investor Ritel Sudah Bisa Membeli?

Belum dalam tahap awal pilot. SEBI menjelaskan bahwa fase pertama berfokus pada penerbitan tokenized bonds. Tahap berikutnya akan memperluas sistem ke aktivitas jual-beli melalui platform request-for-quote (RFQ), sementara akses untuk investor ritel juga direncanakan pada fase berikutnya.

Jadi, berita tentang Demat 2.0 tidak berarti investor ritel India sekarang dapat bebas membeli semua obligasi tokenized melalui aplikasi crypto. Sistemnya masih berkembang secara bertahap.

Ini Bukan Berarti Obligasi Menjadi Crypto

Kesalahpahaman ini perlu dihindari.

  • Tokenized corporate bond tetap merupakan surat utang perusahaan.
  • Investor tetap memiliki hak atas instrumen tersebut sesuai ketentuan obligasi.
  • Penerbit tetap memiliki kewajiban membayar bunga dan pokok sesuai ketentuan.

SEBI secara eksplisit menyatakan bahwa tokenisasi tidak menciptakan kelas obligasi baru dan hak investor tetap sama. Jadi Tokenized bond ≠ cryptocurrency. Tokenized bond adalah representasi digital dari instrumen keuangan yang diregulasi. Perbedaan tersebut akan semakin penting ketika tokenisasi aset berkembang ke berbagai kelas aset lain.

Mengapa India Melakukan Ini?

Ada alasan strategis di balik eksperimen tersebut. Pasar keuangan memiliki banyak proses yang selama puluhan tahun dibangun dengan sistem berbeda-beda. Ada sistem untuk:

  • Penerbitan
  • Pencatatan kepemilikan
  • Perdagangan
  • Settlement
  • Pembayaran bunga
  • Redemption
  • Pelaporan
  • Compliance

Tokenisasi berpotensi menghubungkan beberapa proses tersebut melalui infrastruktur digital yang lebih terintegrasi. India tampaknya memilih pendekatan bertahap. Daripada langsung mengubah seluruh pasar obligasi, regulator menguji teknologi melalui pilot terlebih dahulu. Jika hasilnya baik, cakupannya dapat diperluas.

Dari Demat 1.0 ke Demat 2.0

Nama Demat 2.0 sendiri cukup menarik. India sebelumnya sudah menggunakan sistem dematerialisasi untuk menggantikan sertifikat fisik dengan catatan elektronik. Demat 2.0 mencoba membawa konsep tersebut ke tahap berikutnya.

Bukan sekadar sertifikat fisik → data digital tetapi aset digital → distributed ledger → programmable settlement. Dengan pendekatan tersebut, tokenisasi bukan hanya mengenai mengubah bentuk aset. Tujuannya adalah mengubah sebagian infrastruktur di belakang aset tersebut.

Apa Hubungannya dengan RWA?

Perkembangan India juga sangat relevan dengan konsep Real World Assets (RWA). RWA adalah upaya merepresentasikan aset dunia nyata secara digital menggunakan blockchain atau distributed ledger. Contohnya dapat mencakup:

  • Obligasi
  • Saham
  • Surat utang
  • Properti
  • Emas
  • Instrumen pasar uang

Sebelumnya, pembicaraan RWA banyak berasal dari ekosistem crypto. Namun, Demat 2.0 menunjukkan bahwa institusi keuangan tradisional dan regulator juga sedang mengeksplorasi tokenisasi. Ini membuat perkembangan RWA semakin menarik untuk diperhatikan.

Tokenisasi Saham dan Obligasi Mulai Berjalan di Jalur yang Sama

Perkembangan ini juga memiliki hubungan langsung dengan tren tokenisasi saham. Jika saham dapat direpresentasikan dalam bentuk token, dan obligasi juga dapat diterbitkan serta diselesaikan menggunakan distributed ledger, maka blockchain mulai masuk ke berbagai lapisan pasar modal. Perbedaannya adalah bentuk instrumennya.

  • Saham   → kepemilikan perusahaan
  • Obligasi → klaim utang terhadap penerbit

Keduanya memiliki karakteristik hukum dan ekonomi berbeda. Namun, teknologi pencatatan dan settlement dapat digunakan untuk mengubah cara kedua aset tersebut diproses. Inilah alasan mengapa tokenisasi aset mulai menjadi tema yang lebih luas daripada sekadar crypto.

Apa Risikonya?

Tokenisasi bukan berarti semua masalah pasar keuangan otomatis hilang. Ada beberapa risiko yang tetap harus diperhatikan.

Risiko Teknologi

Sistem digital membutuhkan keamanan yang kuat. Gangguan sistem, kesalahan perangkat lunak, atau kerentanan keamanan dapat berdampak pada proses transaksi.

Risiko Integrasi

Tokenized securities harus tetap terhubung dengan sistem keuangan lain. Semakin banyak sistem yang terintegrasi, semakin penting standar teknis dan interoperabilitas.

Risiko Regulasi

Tokenisasi menyentuh berbagai aspek hukum, termasuk kepemilikan, settlement, kustodian, disclosure, dan perlindungan investor.

Risiko Likuiditas

Sebuah aset yang sudah menjadi token tidak otomatis memiliki pasar sekunder yang aktif. Likuiditas tetap bergantung pada jumlah pembeli dan penjual serta infrastruktur perdagangan.

Risiko Implementasi

Pilot yang berhasil belum tentu otomatis berhasil ketika diterapkan dalam skala nasional. Semakin besar jumlah peserta dan transaksi, semakin besar pula tuntutan terhadap sistem. Karena itu, fase berikutnya dari Demat 2.0 justru akan menjadi bagian penting untuk diperhatikan.

Apa yang Harus Diperhatikan Selanjutnya?

Ada tiga perkembangan yang layak dipantau.

  1. Pertama, secondary trading. Jika tokenized bonds mulai diperdagangkan secara lebih aktif, kita dapat melihat apakah teknologi tersebut benar-benar meningkatkan efisiensi pasar.
  2. Kedua, akses investor ritel. Jika akses diperluas, tokenisasi mulai memiliki dampak yang lebih luas terhadap investor individual.
  3. Ketiga, perluasan jenis aset. Jika model ini berhasil untuk obligasi, teknologi serupa berpotensi diuji pada kelas aset lainnya.

Namun, setiap perluasan tetap membutuhkan kerangka regulasi dan infrastruktur yang sesuai.

India Sedang Menguji Masa Depan Pasar Modal

Yang menarik dari Demat 2.0 bukan hanya angka ₹1.025 crore yang sudah diterbitkan. Hal yang lebih penting adalah eksperimen terhadap hubungan antara:

  • Blockchain
  • Pasar Modal
  • CBDC
  • Smart Contract
  • Regulasi

Kelima elemen tersebut selama ini sering dibahas secara terpisah. India sekarang mencoba menghubungkannya dalam satu sistem yang nyata. Ini belum membuktikan bahwa seluruh pasar obligasi akan berpindah ke blockchain. Namun, pilot tersebut memberikan contoh konkret bagaimana teknologi distributed ledger dapat digunakan oleh pasar keuangan yang diregulasi.

Kesimpulan

Tokenisasi aset mulai memasuki tahap yang berbeda. Bukan hanya proyek crypto atau eksperimen perusahaan blockchain, tetapi mulai diuji oleh regulator dan lembaga pasar modal. Melalui Demat 2.0, India sedang menguji tokenized corporate bonds yang terhubung dengan wholesale digital rupee untuk settlement.

Tiga perusahaan telah menerbitkan tokenized bonds dengan total ₹1.025 crore dalam tahap awal pilot. SEBI juga telah menyatakan bahwa fase berikutnya akan mengeksplorasi perdagangan sekunder dan akses investor ritel.

Perkembangan ini belum berarti blockchain akan menggantikan sistem pasar modal tradisional. Tetapi arahnya menarik. Jika tokenisasi dapat membuat penerbitan, kepemilikan, settlement, pembayaran bunga, dan proses lainnya menjadi lebih terintegrasi, maka perubahan terbesar mungkin bukan pada asetnya, melainkan pada infrastruktur yang menjalankan pasar tersebut.

Dan jika model seperti ini berhasil berkembang, istilah RWA atau Real World Assets mungkin tidak lagi hanya menjadi istilah di dunia crypto. Ia bisa menjadi bagian dari evolusi berikutnya dalam sistem keuangan digital.

Radar Investor — See Beyond the Market.


Baca Juga
    Oops!
    Koneksi internet Kamu sepertinya bermasalah. Cek koneksi internet dan coba lagi
    AdBlock Detected!

    Kami mendeteksi Anda menggunakan pemblokir iklan (AdBlock).
    Pendapatan dari iklan digunakan untuk mengelola situs web ini, mohon matikan pemblokir iklan atau masukkan situs kami ke dalam daftar putih (whitelist)