Blockchain selama ini lebih dikenal sebagai teknologi di balik cryptocurrency. Namun perkembangan terbaru di Amerika Serikat menunjukkan bahwa penggunaannya mulai bergerak lebih jauh, yaitu menuju infrastruktur pasar modal.
![]() |
| STOCKS GO ON-CHAIN |
Langkah tersebut tidak berarti seluruh saham Amerika sekarang dapat diperdagangkan bebas melalui blockchain. Ada sejumlah persyaratan dan batasan yang harus dipenuhi. Namun arah perkembangannya cukup jelas: blockchain mulai diuji bukan hanya sebagai teknologi aset digital, tetapi juga sebagai bagian dari infrastruktur perdagangan sekuritas.
Apa itu saham yang ditokenisasi?
Secara sederhana, tokenisasi adalah proses merepresentasikan suatu aset atau hak atas aset dalam bentuk token digital yang tercatat pada jaringan blockchain. Dalam konteks saham, token tersebut merepresentasikan kepentingan pada saham tertentu.
Namun ada perbedaan penting antara tokenisasi saham dengan token yang hanya mengikuti harga saham. SEC menetapkan bahwa tokenized NMS stock yang masuk dalam kerangka pengecualian tersebut harus memberikan hak yang sama dengan sekuritas tradisional, termasuk hak atas dividen dan hak suara.
Jadi konsepnya bukan sekadar membuat “token yang harganya mengikuti saham”. Yang menjadi perhatian adalah bagaimana kepemilikan dan hak atas sekuritas tersebut direpresentasikan dalam sistem berbasis blockchain.
Mengapa SEC membuka jalur ini?
Salah satu alasan utamanya adalah perkembangan teknologi pasar keuangan. Blockchain memungkinkan pencatatan transaksi dan kepemilikan dilakukan menggunakan infrastruktur digital yang berbeda dari sistem tradisional. SEC sendiri menyebut tokenisasi memiliki potensi untuk memodernisasi beberapa fungsi pasar, termasuk penerbitan, perdagangan, transfer, settlement, dan pencatatan kepemilikan.
Namun SEC tidak langsung membuat aturan permanen. Pengecualian yang diberikan bersifat sementara dan bersyarat selama lima tahun. Selama periode tersebut, regulator dapat mengamati bagaimana model perdagangan ini bekerja sebelum menentukan pendekatan jangka panjang.
Artinya, langkah ini lebih tepat dipandang sebagai ruang pengujian regulasi daripada perubahan total terhadap sistem pasar saham.
Bagaimana perdagangan saham tokenisasi dapat dilakukan?
SEC memberikan jalur bagi Tokenized Securities Venues atau TSV untuk menggunakan automated market makers (AMM) dan liquidity pools yang bersifat permissioned untuk perdagangan tokenized NMS stock.
Ini menarik karena AMM selama ini lebih sering dikaitkan dengan decentralized finance atau DeFi. Dalam model yang disetujui SEC, aksesnya tidak sepenuhnya bebas seperti perdagangan token biasa. Platform harus memiliki standar akses terhadap peserta yang diperbolehkan melakukan perdagangan. Dengan demikian, teknologi blockchain tetap digunakan, tetapi aktivitas perdagangan berada dalam kerangka yang memiliki persyaratan regulasi.
Blockchain tidak otomatis menghapus aturan pasar modal
Ini bagian yang penting. Masuknya saham ke blockchain bukan berarti aturan pasar modal menjadi tidak berlaku. SEC menegaskan bahwa ketentuan mengenai penipuan dan manipulasi pasar tetap berlaku penuh terhadap aktivitas sekuritas tersebut.
Ada pula persyaratan mengenai transparansi transaksi, pencatatan, keamanan teknologi, penghentian perdagangan, serta batasan tertentu pada jumlah dan volume sekuritas yang dapat diperdagangkan melalui skema tersebut.
Dengan kata lain Blockchain mengubah infrastrukturnya, tetapi bukan berarti aturan perlindungan investor ikut hilang.
Apa manfaat yang mungkin muncul?
Jika model ini berkembang, salah satu perubahan yang mungkin terlihat adalah proses perdagangan dan penyelesaian transaksi yang semakin terintegrasi secara digital. Secara teori, penggunaan blockchain dapat membantu mengurangi beberapa proses perantara dan membuat pencatatan transaksi lebih mudah ditelusuri.
SEC juga menyebut potensi manfaat tokenisasi berupa pengurangan biaya, peningkatan transparansi, dan perluasan likuiditas, meskipun manfaat tersebut masih perlu diuji dalam praktik. Karena itu, belum tepat mengatakan bahwa tokenisasi otomatis membuat pasar saham menjadi lebih murah atau lebih efisien. Teknologinya membuka kemungkinan tersebut, tetapi hasil akhirnya akan bergantung pada bagaimana sistem diterapkan.
Ada batasan yang perlu diperhatikan
Pengecualian SEC tidak berlaku untuk semua bentuk token saham. Token yang hanya memberikan eksposur sintetis terhadap harga saham tidak termasuk dalam jalur tersebut. SEC juga mensyaratkan bahwa token yang memenuhi kerangka ini memberikan hak yang sama seperti sekuritas tradisional.
Selain itu, penerbit saham harus memiliki kesempatan untuk menolak agar sekuritasnya diperdagangkan melalui TSV. Artinya, perusahaan tidak otomatis kehilangan kendali atas bagaimana sahamnya digunakan dalam sistem tokenisasi.
Hal ini menunjukkan bahwa tokenisasi aset tidak sesederhana mengubah saham menjadi token. Ada persoalan mengenai kepemilikan, hak investor, kustodi, identitas peserta, likuiditas, keamanan smart contract, dan hubungan antara blockchain dengan sistem pasar modal yang sudah ada.
Hubungannya dengan perkembangan RWA
Perkembangan ini memiliki hubungan langsung dengan tren Real-World Assets (RWA). RWA merupakan konsep membawa representasi aset dunia nyata ke dalam jaringan blockchain.
Sebelumnya, pembahasan RWA banyak berkaitan dengan obligasi, surat utang pemerintah, dana investasi, properti, dan aset lainnya. Kini saham juga semakin masuk dalam pembahasan tersebut.
Jika tokenisasi saham berkembang, blockchain berpotensi tidak hanya menjadi tempat perdagangan aset yang lahir secara digital, tetapi juga menjadi salah satu lapisan infrastruktur untuk aset yang sudah ada di sistem keuangan tradisional. Ini merupakan perubahan yang cukup penting dalam arah perkembangan blockchain.
Apakah ini berarti bursa saham akan pindah ke blockchain?
Belum. Keputusan SEC hanya membuka jalur terbatas dan sementara bagi model tertentu. Belum ada kepastian bahwa seluruh perdagangan saham akan berpindah ke blockchain. Pasar tradisional masih memiliki infrastruktur yang sudah berjalan, likuiditas yang besar, aturan yang matang, dan jaringan institusi yang luas.
Karena itu, kemungkinan perubahan tidak harus berbentuk penggantian total. Bisa saja blockchain terlebih dahulu digunakan pada bagian tertentu dari proses pasar, seperti pencatatan, settlement, transfer kepemilikan, atau perdagangan aset tertentu.
Dengan kata lain, tokenisasi mungkin lebih realistis sebagai evolusi infrastruktur pasar daripada pengganti langsung bursa tradisional.
Yang perlu diperhatikan investor
Bagi investor, perkembangan ini membuka pertanyaan baru. Bukan hanya Apakah saham bisa ditokenisasi tetapi juga:
- Siapa yang menerbitkan token tersebut?
- Apakah token benar-benar mewakili saham yang mendasarinya?
- Hak apa yang dimiliki pemegang token?
- Bagaimana kustodi dan transfernya dilakukan?
- Blockchain apa yang digunakan?
- Bagaimana perdagangan dihentikan jika saham dasarnya terkena trading halt?
- Bagaimana risiko smart contract dikelola?
- Dan bagaimana aturan investor berlaku ketika perdagangan berlangsung secara on-chain?
Pertanyaan tersebut akan semakin penting jika tokenisasi berkembang dari tahap uji coba menjadi bagian yang lebih besar dari pasar keuangan.
Blockchain mulai masuk ke lapisan pasar keuangan
Perkembangan terbaru dari SEC menunjukkan bahwa pembahasan blockchain telah bergerak sedikit lebih jauh. Dulu pertanyaan utamanya adalah bagaimana cryptocurrency dapat masuk ke sistem keuangan.
Sekarang muncul pertanyaan yang berbeda Bagaimana sistem keuangan tradisional dapat menggunakan blockchain?
Tokenisasi saham merupakan salah satu contoh dari perubahan tersebut. Lima tahun ke depan akan menjadi periode penting untuk melihat apakah perdagangan sekuritas secara on-chain mampu memberikan efisiensi nyata, meningkatkan transparansi, dan tetap memenuhi standar perlindungan investor.
Untuk saat ini, yang dapat dikatakan adalah bahwa regulator Amerika Serikat telah memberikan ruang terbatas untuk menguji model tersebut. Blockchain belum menggantikan pasar modal. Tetapi blockchain mulai diuji sebagai bagian dari infrastrukturnya.
Sumber: U.S. Securities and Exchange Commission, 17 September 2026; Reuters, 17 September 2026.
